Senin, 03 Desember 2012

Mengatasi Infertilitas Kemandulan Sejak Dini

 

Oleh : Rizem Aizid 
Harga : Rp. 30000 
Terbit : November 2012 
Penerbit : Flashbooks 

Sekilas tentang isi buku
Apakah Anda telah lama menikah (lebih dari setahun), namun belum kunjung mendapatkan momongan? Berhati-hatilah, karena bisa jadi Anda mempunyai masalah dengan kesuburan Anda.
Perlu diketahui, diperkirakan 1 dari 7 pasangan di dunia bermasalah dalam mendapatkan keturunan. Problem kemandulan tersebut bisa dialami pria maupun wanita, bahkan peluangnya fifty-fifty. Karena itu, Anda dan pasangan harus memperhatikan benar kondisi kesuburan Anda berdua dan sebaiknya mulai melakukan pendeteksian dini.
Inilah buku yang mengupas tuntas masalah seputar kemandulan. Beragam informasi mulai dari faktor risiko, penyebab, diagnosis, penanganan, pengobatan, hingga pencegahan kemandulan diuraikan dengan sangat terperinci. Bukan itu saja, tips-tips untuk meningkatkan kesuburan juga dipaparkan secara detail.
Buku wajib bagi Anda yang telah lama menikah namun belum dikaruniai anak maupun bagi Anda yang sedang mempersiapkan diri untuk hidup berkeluarga dan ingin segera memiliki momongan.
Selamat membaca!

    Serba-serbi seputar Kehamilan dan Kemandulan
    Faktor Risiko dan Penyebab Kemandulan
    Diagnosis terhadap Kemandulan
    Penanganan dan Pengobatan terhadap Kemandulan
    Pencegahan terhadap Kemandulan
    Tips-Tips Meningkatkan Kesuburan
    Dll.

Jumat, 12 Oktober 2012

Cerdas Dengan Amalan Asmaul Husna


Penulis : Rizem Aizid Harga : Rp. 32000 Ukuran : 14x20cm Tebal : 288hlm Terbit : Oktober 2012 Penerbit : DIVA PRESS



Asmaul husna! Saya yakin, Anda (kaum muslim) pasti sudah tidak asing lagi dengan istilah ini. Betapa tidak, asmaul husna merupakan istilah yang digunakan untuk menyebut nama-nama Allah Swt., dimana di dalamnya terdapat 99 nama Allah. Sebagai orang islam, kita sudah dikenalkan terhadap asmaul husna sejak kita mengenal islam, tepatnya sejak kita masih kecil. Bahkan, tidak hanya diajarkan di sekolah madrasah islam (MI, MTs, MA, dan Perguruan Tinggi Islam), di sekolah-sekolah umum pun (TK, SD, SMP, SMA, dan bahkan Perguruan Tinggi) asmaul husna kerap menjadi salah satu materi yang disampaikan guru dalam pelajaran agama islam. Maka dari itu, jangan pernah mengatakan bahwa Anda sama sekali belum mengenal dan mengetahui tentang nama-nama Allah ini.
Namun demikian, meskipun asmaul husna telah dikenalkan kepada kita (kaum muslim) sejak masih kecil, ternyata masih banyak diantara kita yang belum mengenal fadhilah dan khasiat dari nama-nama Allah ini. Nah, tahukah Anda bahwa sebenarnya setiap nama Allah dalam asmaul husna itu memiliki khasiat dan fadhilahnya sendiri-sendiri. Dan ajaibnya, khasiat dan fadhilah asmaul husna itu tidak hanya dapat mengantarkan kita menuju surga (mendapatkan kenikmatan dan kebahagiaan di akhirat kelak/berorientasi akhirat), tetapi juga dapat mengantarkan kita kepada kebahagiaan di dunia, seperti; menjadikan pengamalnya memiliki ilmu dan pengetahuan yang tinggi dan dalam, menjadikan pengamalnya dikaruniai kecerdasan, kekayaan, kesuksesan, dan lain-lain. Berdasarkan khasiat dan fadhilah yang begitu besar itulah, maka tak heran jika asmaul husna menjadi salah satu amalan dahsyat yang paling sering diamalkan kaum muslim.
Nah, dari begitu banyak khasiat dan fadhilah asmaul husna itu, salah satu khasiat amalan asmaul husna terdahsyat yang akan diulas buku ini adalah dapat meningkatkan kecerdasan. Kecedasan memang masih umum. Amalan asmaul husna tidak hanya dapat meningkatkan kecerdasan intelektual (IQ) yang merupakan fungsi otak kiri, tetapi juga dapat meningkatkan kecerdasan emosional (EQ), dimana EQ tak lain adalah fungsi dari otak kanan. Selain itu, amalan asmaul husna juga dapat melejitkan potensi yang terdapat dalam otak kita.
Mungkin Anda sudah tahu bahwa otak kita (manusia) terbagi menjadi beberapa bagian, yang salah satunya adalah otak besar. Dan otak besar ini masih dibagi lagi menjadi dua belahan/bagian, yakni otak kanan dan otak kiri. Nah, di sini saya mecoba mengulas khasiat dahsyat amalan asmaul husna untuk melejitkan potensi yang tersimpan dalam belahan otak kanan dan kiri. Maka dari itu, buku ini akan mengkhususkan pembahasan khasiat dahsyat asmaul husna dalam melejitkan potensi otak kanan dan kiri. Jadi, beberapa amalan asmaul husna pilihan yang disajikan buku ini adalah amalan asmaul husna yang dapat melejitkan potensi otak kanan dan kiri Anda.
Kapasitas dari potensi pikiran sadar manusia hanya sebesar 12% dari otaknya sedangkan sisanya adalah kapasitas potensi pikiran bawah sadar sebesar 88%. Dapat diibaratkan, otak sadar manusia adalah seorang nakhoda, sedangkan otak bawah sadar adalah ruang mesin (robot) yang siap melakukan perintah nakhoda. Sungguh ajaib dan sangat menakjubkan potensi otak manusia. Berdasarkan suatu penelitian, seorang yang jenius dapat mengoptimalkan cara kerja otak sadarnya sebesar 5-6% dari kapasitas otak sadar manusia pada umumnya, yaitu 12%.
Mungkin Anda sudah tahu dan sering mendengar cerita hidup sosok genius dan legendaris di bidang sains. Ya, Albert Einstein adalah salah satu contoh manusia genius yang berhasil mengoptimalkan cera kerja otak sadarnya sebesar 5-6%. Tentu saja, jenis orang seperti ini tidak banyak, hanya ± 100 manusia di dunia ini. Menurut penelitian, Einstein lebih banyak menggunakan belahan otak kanannya (daya imajinasi yang kuat) sehingga ia dapat menghasilkan penemuan-penemuan yang spektakuler.
Berdasarkan penelitian terbaru bahwa setiap sel otak yang tersambung dengan sel otak yang lainnya akan membantu proses berpikir. Semakin banyak sambungan sel dalam otak maka akan semakin cerdas otak kita. Dalam hal ini, Einstein telah melakukannya. Meskipun tidak ada data yang memastikan berapa banyak sel otaknya yang telah tersambung, yang pasti belum semua kapasitas dari otaknya digunakan. Tapi hasilnya sudah sangat luar biasa! Apalagi jika 100% dari kapasitas fungsi otaknya digunakan, pasti hasilnya lebih luar biasa, bukan?
Sedangkan manusia rata-rata hanya menggunakan kapasitas otak sadar kurang dari 4%. Apakah potensinya bisa ditingkatkan? Jawabannya sudah pasti bisa, asalkan tahu caranya dan mau melatihnya. Lantas, bagaimana cara meningkatkan potensi kerja otak sadar tersebut? Dengan pertanyaan lain, bagaimana cara melejitkan potensi otak kanan dan kiri?
Salah satu cara paling mudah dan murah, serta cukup praktis, adalah dengan amalan asmaul husna. Mungkin Anda masih ragu dan bertanya-tanya, benarkah amalan asmaul husna dapat melejitkan potensi otak kanan dan kiri? Tentu saja benar. Perlu Anda ketahui, amalan asmaul husna memiliki faedah atau khasiat dapat merangsang kecerdasan IQ dan EQ jika dilakukan secara rutin dan kontinu. Tidak percaya, silah Anda buktikan sendiri.
Lantas, pertanyaan krusial lainnya adalah; apakah semua asmaul husna dapat meningkatkan potensi otak kanan dan kiri? Tidak. Perlu Anda ketahui, dari 99 nama Allah dalam asmaul husna itu, ada sebagian dari nama-nama Allah tersebut yang memiliki khasiat dapat melejitkan potensi otak kanan dan kiri. Apa saja nama-nama yang dimaksud? Anda akan menemukan jawabannya dalam buku ini.
Untuk memberikan penjelasan yang komprehensif dan detil, buku ini tersaji menjadi dua bagian. Bagian 1 berisi tentang hubungan antara asmaul husna dengan potensi otak kanan dan kiri --dimana bagian ini berisi 2 bab, yakni bab 1 berisi tentang gambaran umum potensi otak kanan dan otak kiri, sehingga dengan membaca bab ini diharapkan Anda mengetahui atau memperoleh informasi tentang berbagai potensi otak kanan dan kiri. Dan bab 2 berisi tentang gambaran umum asmaul husna yang dapat melejitkan potensi otak kanan dan kiri--. Sedangkan bagian 2 berisi tentang amalan asmaul husna pilihan dan fadhilahnya untuk melejitkan potensi otak kanan dan kiri. Adapun pada bagian dua ini akan disajikan 72 nama Allah yang berkhasiat atau berfaedah mampu melejitkan potensi otak kanan dan kiri. Adapun ke 72 nama Allah tersebut, adalah;
Amalan 1            : Ya Rahman
Amalan 2            : Ya Rahim
Amalan 3            : Ya Malik
Amalan 4            : Ya Quddus
Amalan 5            : Ya Mu’min
Amalan 6            : Ya Muhaimin
Amalan 7            : Ya Aziiz
Amalan 8            : Ya Jabbar
Amalan 9            : Ya Mutakabbir
Amalan 10          : Ya Khaaliq
Amalan 11          : Ya Barii’
Amalan 12          : Ya Ghaffar
Amalan 13          : Ya Qahhaar
Amalan 14          : Ya Wahhaab
Amalan 15          : Ya Razzaaq
Amalan 16          : Ya Fattaah
Amalan 17          : Ya Aliim
Amalan 18          : Ya Qaabith
Amalan 19          : Ya Baasith
Amalan 20          : Ya Mu’izzu
Amalan 21          : Ya Mudzillu
Amalan 22          : Ya Samii’
Amalan 23          : Ya Bashiir
Amalan 24          : Ya Hakam
Amalan 25          : Ya Adl
Amalan 26          : Ya Lathiif
Amalan 27          : Ya Kahbiir
Amalan 28          : Ya Haliim
Amalan 29          : Ya Azhiim
Amalan 30          : Ya Ghafuur
Amalan 31          : Ya Syakur
Amalan 32          : Ya Aliiyy
Amalan 33          : Ya Kabiir
Amalan 34          : Ya Hafiizh
Amalan 35          : Ya Hasiib
Amalan 36          : Ya Jaliil
Amalan 37          : Ya Karim
Amalan 38          : Ya Raqib
Amalan 39          : Ya Waasi’
Amalan 40          : Ya Hakiim
Amalan 41          : Ya Waduud
Amalan 42          : Ya Ba’its
Amalan 43          : Ya Qawiyyu
Amalan 44          : Ya Matiin
Amalan 45          : Ya Waliyyu
Amalan 46          : Ya Hamid
Amalan 47          : Ya Muhshiy
Amalan 48          : Ya Mubdi u
Amalan 49          : Ya Mu’iid
Amalan 50          : Ya Muhyii
Amalan 51          : Ya Mumiit
Amalan 52          : Ya Qayyum
Amalan 53          : Ya Waajid
Amalan 54          : Ya Maajid
Amalan 55          : Ya Shamad
Amalan 56          : Ya Qaadir
Amalan 57          : Ya Muqtadir
Amalan 58          : Ya Muakhkhir
Amalan 59          : Ya Aakhir
Amalan 60          : Ya Zhaahir
Amalan 61          : Ya Baathin
Amalan 62          : Ya Waliy
Amalan 63          : Ya ‘Afuww
Amalan 64          : Ya Ra uuf
Amalan 65          : Ya Dzul Jalaaliwal Ikram
Amalan 66          : Ya Muqsith
Amalan 67          : Ya Maani’
Amalan 68          : Ya Naafi’u
Amalan 69          : Ya Nuur
Amalan 70          : Ya Haadii
Amalan 71          : Ya Badii’
Amalan 72          : Ya Rasyiid
Itulah beberapa nama Allah dalam asmaul husna yang berkhasiat dapat melejitkan potensi otak kanan dan kiri. Dengan mengetahui bahwa asmaul husna berpotensi melejitkan atau meningkatkan potensi otak kanan dan kiri, maka telah terkuak suatu bukti bahwa asmaul husna merupakan amalan yang sangat dahsyat, tidak hanya bermanfaat untuk akhirat saja, tetapi juga bermanfaat untuk kebahagiaan di dunia.
Akhirnya, semoga kehadiran buku ini dapat membuka cakrawala Anda dan memberikan solusi alternatif religius bagi semua permasalahan hidup Anda. Amin!




Selasa, 11 September 2012

Allah mencintai orang-orang yang bertaubat


Judul : Meraih Cinta Ilahi Melalui Taubat Nasuha
Penulis : Rizem Aizid
Penerbit : Pustaka Albana
Cetakan : I, 2012
Tebal Buku : 158 halaman

Mendapat cinta Ilahi (Allah Swt.) merupakan impian setiap hamba. Mendapat cinta Ilahi berarti mendapat rahmat, hidayah, dan ridho dari Allah Swt. Seorang hamba yang sudah mendapatkan cinta dan kasih sayang-Nya akan hidup dalam kebahagiaan, baik di dunia maupun di akhirat. Tidak ada kebahagiaan yang paling indah daripada mendapat cinta-Nya.
Sejak dulu sampai sekarang, ada sebagian orang (muslim) yang sudah melakukan berbagai ritual untuk mendapatkan cinta-Nya. Dalam hal ini, mereka berlomba-lomba untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Mereka itulah para ahli sufi, ahli dzikir, ulama, dan para ‘alim lainnya. Bagi mereka, tidak ada kebahagiaan di dunia ini kecuali dekat kepada Allah Swt. Hidup di dunia ibarat sebuah perahu yang singgah di sebuah dermaga, setelah itu kembali mengarungi samudera yang luas untuk menempuh perjalanan yang sangat panjang.
Bahkan, sang tokoh sufi fenomenal –Syeikh Siti Jenar—beranggapan bahwa hidup yang sebenarnya adalah hidup sesudah mati. Artinya, hidup di dunia ini hanyalah sementara. Dan kehidupan sejati itu adalah di alam akhirat kelak. Maka dari itu, tak ayal apabila banyak orang-orang terdahulu yang memilih jalan zuhd untuk bisa dekat kepada Allah Swt.
Nah, melihat fenomena semacam itu, pertanyaannya adalah; bagaimana dengan kita saat ini? Apakah kita bisa dekat kepada Allah Swt., dalam artian mendapatkan cinta-Nya, padahal kita masih berlumuran dosa?
Tidak ada seorang hamba yang luput dari salah dan dosa. Kesalahan dan dosa merupakan hal yang wajar, dimana setiap umat manusia pasti melakukannya. Bahkan, sekaliber Nabi Muhammad Saw. pun pernah melakukan kesalahan. Maka dari itu, janganlah kita (Anda) berkecil hati –apalagi berputus asa—terhadap cinta Allah Swt. Sebab, Allah Swt. akan senantiasa memberikan cinta-Nya kepada mereka yang mencintai-Nya.
Apabila kita sadar bahwa kita telah banyak melakukan salah dan dosa, maka jalan terbaik untuk mendapatkan cinta-Nya adalah lewat taubat. Allah Swt. menyeru hamba-Nya yang berlumuran dosa agar bertaubat, meminta ampun, dan kembali ke jalan-Nya. Bertaubat kepada Allah Swt. merupakan perbuatan mulia yang sangat dianjurkan oleh Nabi Muhammad Saw. terhadap umat muslim yang sadar akan perbuatan dosanya. Orang yang bertaubat akan mendapat ampunan Allah Swt. Hal itu telah dijanjikan Allah Swt. dalam firman-Nya, yang artinya; “Tidaklah mereka mengetahui, bahwasanya Allah menerima Taubat dari hamba-hamba-Nya …” (QS. At Taubah [9]; 104)
Berdasarkan firman Allah Swt. tersebut, maka tidak pantas bagi kita untuk berkecil hati dan berputus asa akan ampunan-Nya. Dia maha Pengampun lagi maha Penyayang. Tidak ada dosa yang tidak diampuni oleh-Nya selama kita mau bertaubat kepada-Nya dengan semurni-murninya taubat, yakni taubat nasuha.
Dalam ayat lain, Allah menegaskan bahwa “Sesungguhnya Taubat di sisi Allah hanyalah Taubat bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan lantaran kejahilan, yang kemudian mereka bertaubat dengan segera, maka mereka itulah yang diterima Allah taubatnya; dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. An Nisaa’ [4]; 17)
Yang dimaksud dengan orang-orang yang mengerjakan kejahatan lantaran kejahilan dalam ayat tersebut adalah (1). Orang yang berbuat maksiat dengan tidak mengetahui bahwa perbuatan itu adalah maksiat kecuali jika dipikirkan lebih dahulu. (2). Orang yang durhaka kepada Allah, baik dengan sengaja atau tidak. (3). Orang yang melakukan kejahatan karena kurang kesadaran lantaran sangat marah atau karena dorongan hawa nafsu.
Dengan demikian, orang-orang yang merasa (sadar) bahwa dirinya telah melakukan perbuatan dosa, maka wajib baginya untuk segera bertaubat kepada Allah. Seberapa besar dosa yang telah dilakukan, maka ampunan Allah jauh lebih besar daripadanya. Untuk itu, sekali lagi, umat muslim (kita) dilarang berputus asa atas ampunan Allah meski dosanya sebesar gunung atau seluas langit.
Allah Swt. maha pengampun lagi maha penyayang. Dia menerima semua taubat hamba-Nya. Tentunya, taubat yang diterima adalah taubat yang semurni-murninya taubat, yakni taubat nasuha.
Apa itu taubat nasuha? Bagaimana cara melakukannya (taubat nasuha)? Dan hal-hal apa saja yang dapat menghapus dosa-dosa kita?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut merupakan bagian dari pertanyaan-pertanyaan lain yang jawabannya akan Anda temukan dalam buku ini. Di sini, saya mencoba membahas tentang taubat nasuha secara detil dan komprehensif, mulai dari pengertian dan hakikatnya, hal-hal yang mengahalangi taubat, hal-hal yang menghapus dosa, hingga tuntunan melakukan shalat taubat. Semua itu dikemas dalam bahasa yang ringan dan mudah dimengerti.
Berdasarakan judulnya –Meraih Cinta Ilahi Melalui Taubat Nasuha--, maka buku ini berisi penjelasan tentang seluk-beluk taubat nasuha dan cara melakukannya secara detil dan komprehensif. Buku ini diharapkan dapat menjadi tuntunan bagi hamba Allah yang merasa telah berbuat dosa dan hendak bertaubat kepada Allah dengan memohon ampunan-Nya dan menjauhi (tidak mengulangi) perbuatan dosanya. Akhirnya, semoga buku ini bermanfaat bagi Anda yang ingin dekat dengan Allah Swt. lewat jalan taubat nasuha. Amin!

Sabtu, 08 September 2012

Untuk Siapa Kita Berpakaian?



Pakaian dan aurat ibarat dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Benarkan demikian? Ya, karena pakaian merupakan satu-satunya instrument (alat) yang digunakan manusia sejak zaman dahulu sebagai penutup tubuh (baca: aurat). Singkat kata, fungsi utama pakaian adalah sebagai pelindung (penutup) tubuh. Manusia menjadikan pakaian sebagai penutup tubuh bukan tanpa alasan. Adapun alasan yang utama dan paling penting (sebagaimana diperintahkan dalam agama) adalah menutup aurat, dimana tubuh manusia (terutama wanita) adalah aurat yang harus ditutup. Selain fungsi utama tersebut, pakaian juga berfungsi melindungi kulit tubuh dari cuaca panas (matahari) dan dingin. Oleh karena itu, sejak zaman dahulu kala pakaian sudah digunakan oleh manusia meskipun dalam bentuk yang berbeda, yakni dari pakaian primitif sampai pakaian yang paling modern saat ini.
Mengenai hal ini, Allah Swt. berfirman dalam surat Al-A’raf ayat 26 tentang keutamaan pakaian sebagai penutup aurat.
Artinya: “Hai anak Adam (seluruh umat manusia), sesungguhnya kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa Itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, Mudah-mudahan mereka selalu ingat.” (QS. Al-A’raf [7]; 26)
Harus Anda ketahui bahwasannya ayat tersebut berbicara tentang perintah menutup aurat bagi seluruh umat manusia, pria dan wanita. Dalam ayat tersebut, Anda juga dapat mengetahui bahwa pakaian adalah satu-satunya instrument yang paling sederhana dan praktis untuk menutup aurat. Allah Swt. menurunkan pakaian bukan untuk bergaya semata, melainkan agar umat manusia menutup auratnya, baik dihadapan manusia lain maupun dihadapan Allah ketika shalat.
Tentu saja, tidak semua pakaian dapat berfungsi sebagai penutup aurat. Inilah yang harus kita perhatikan mulai dari sekarang. Ada banyak model dan jenis pakaian yang kini dipakai oleh manusia modern. Bahkan, dari sekian model pakaian yang ada tersebut, beberapa model pakaian jelas-jelas tidak menutup aurat. Untuk pakaian semacam itu, ungkapan yang pantas adalah “berpakaian tapi telanjang”. Tahukah Anda apa yang dimaksud dengan ungkapan tersebut?
Saya yakin Anda sekalian sudah sering melihat seseorang berpakaian tapi telanjang. Tanpa kita sadari, ternyata pakaian yang semacam itu hanya mengundang hasrat negative bagi orang yang melihatnya. Ya, dialah orang yang berpakaian dengan model pakaian ketat sehingga menampakkan lekuk tubuhnya. Selain ketat, bahan yang digunakan untuk membuat pakaian tersebut juga sangat tipis sehingga terlihat dengan samar warna kulit tubuhnya. Pakaian jenis inilah yang dimaksud dengan berpakaian tapi telanjang.
Jika ditarik dalam konteks agama (Islam), tentu saja pakaian semacam itu tidak dibolehkan dipakai oleh kaum muslim, terutama wanita muslimah. Mengapa? Sebab, pakaian semacam itu (ketat dan tipis) jelas-jelas tidak menutup aurat. Oleh karena itu, barangsiapa yang memakainya, maka ia telah melakukan perbuatan yang dilarang agama. Dan hukum memakai pakaian tersebut adalah haram.
Sebagai umat Islam, mungkin Anda sudah paham dan mengerti esensi atau hakikat dari kata Islam itu sendiri. Secara harfiah, Islam dapat diartikan sebagai pasrah atau berserah diri. Artinya, kita –sebagai hamba Allah Swt.—menyerahkan diri kita seutuhnya hanya kepada Allah Swt. Kita hanya tunduk dan pasrah kepada-Nya. Itulah mengapa ketika seseorang hendak memeluk Islam, maka hal pertama dan utama yang harus dilakukan adalah bersyahadat (mengucapkan dua kalimat syahadat). Bersyahadat tidak hanya cukup di lisan saja, tetapi juga harus dibarengi dengan pengakuan hati dan perbuatan. Ketika lisan dan hati kita sudah mengakui bahwa hanya Allah lah yang patut disembah, tidak ada tuhan selain Allah, dan juga mengakui bahwa Nabi Muhammad Saw. adalah utusan-Nya, maka pengakuan tersebut akan termanifestasi ke dalam perbuatan yakni dalam bentuk ibadah kita kepada Allah Swt.
Salah satu bentuk manifestasi syahadat kita dalam tindakan konkret adalah dengan senantiasa menegakkan shalat. Ya, shalat merupakan ibadah yang diwajibkan kepada setiap umat islam. Kewajiban menegakkan shalat tidak hanya terbatas pada kalangan atau usia tertentu, melainkan semua orang –bahkan mulai dari anak yang sudah baligh atau menginjak usia tujuh tahun—wajib menjalankan perintah Allah ini. Karena dengan shalat, seorang hamba dapat menghadap Tuhannya. Dengan demikian, shalat merupakan suatu bentuk ibadah yang dapat membawa kita berdiri di hadapan Allah Swt.
Ketika kita berdiri menghadap Allah, Tuhan sang Pencipta, maka sudah barang tentu kita harus sopan. Sopan tidak hanya dari segi tingkah laku, tetapi juga dari segi pakaian. Ya, pakaian yang kita gunakan untuk menghadap Allah (shalat) hendaklah sopan dan menutup aurat secara sempurna. Di sinilah letak pentingnya pakaian dalam menutup aurat ketika shalat.
Namun sayangnya, seiring begitu cepatnya budaya asing (seperti film, musik, mode berpakaian, mode rambut, gaya hidup atau life style, dan lain-lain) yang berkembang di era modern ini, ternyata telah banyak mempengaruhi tata pakaian (busana) kaum muslimin saat ini, terutama remaja muslim. Etika berpakaian pun tidak dihiraukan lagi. Padahal, sebagaimana dijelaskan di atas, fungsi utama dari pakaian itu sendiri adalah menutup aurat. Banyak remaja yang berbusana tidak sesuai dengan waktu dan tempat.
Kedudukan berpakaian  dalam Islam  sangat prinsipil. Mengapa demikian? Karena, berpakaian merupakan syarat yang harus terpenuhi sebelum melaksanakan Ibadah, terutama Ibadah Shalat.  Berpakaian bukan sekedar berpakaian karena syaratnya harus menutup aurat. Dengan demikian, esensi pakaian diciptakan Allah Swt. adalah untuk menutup aurat sekaligus perhiasan (bagi wanita, perhiasan merupakan sesuatu yang tidak boleh diperlihatkan kepada orang lain yang bukan mahramnya).
Di dalam Al-Qur’an, pakaian yang mesti dikenakan oleh seorang wanita shalehah telah atur sedemikian rupa oleh Allah Swt. Tentang hal ini, Allah Swt. berfirman;
Artinya: “Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau Saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak- budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, Hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” (QS. An-Nur [24]; 31)
Selain beberapa ayat lain yang berbicara tentang pakaian wanita shalehah, ayat di atas sudah menjelaskan dengan sangat jelas bagaimana seharusnya seorang wanita shalehah berpakaian. Dalam ayat lain, Allah Swt. berfirman;
Artinya: “Hai nabi, Katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka". yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, Karena itu mereka tidak di ganggu. dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Ahzab [33]; 59)
Dengan demikian, sudah jelas sekali bahwa kita tidak boleh asal-asalan dalam berpakaian, apalagi ketika akan menunaikan ibadah shalat. Pakaian, sekali lagi, sangat penting untuk diperhatikan. Jika kita hendak shalat, maka jangan sampai pakaian yang kita kenakan keluar dari ketentuan atau aturan yang telah dijelaskan Allah Swt. dalam ayat-ayat di atas. Tentu saja, hal ini tidak hanya berlaku bagi kaum wanita saja, tetapi juga kaum laki-laki.
Allah Swt. berfirman;
รปArtinya: “Hai anak Adam[1], Sesungguhnya kami Telah menurunkan kepadamu Pakaian untuk menutup auratmu dan Pakaian indah untuk perhiasan. dan Pakaian takwa itulah yang paling baik. yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, Mudah-mudahan mereka selalu ingat.” (QS. Al-A’raf [7]; 26)
Itulah beberapa ayat dalam al-Qur’an yang menjelaskan tentang urgensi atau peran penting pakaian dalam shalat. Selain tiga ayat tersebut, sebenarnya masih banyak ayat-ayat lain yang pada hakikatnya menjelaskan hal serupa. Dalam ayat tersebut, paling tidak ada dua hal penting yang dapat menjadi pelajaran berharga bagi kita tentang syarat pakaian yang sebenarnya, yakni: 1) pakaian harus menutup aurat dan 2) pakaian sebagai perhiasan (baik/menarik). Banyak yang memilih pakaian hanya karena menarik saja menurut dirinya dan melupakan syarat apakah menutup aurat atau tidak. Tentang syarat menutup aurat telah dijelaskan oleh para ulama kita. Namun perlu kita pahami bahwa menutup aurat berbeda dengan membungkus aurat.   Jadi, syarat berpakaian adalah menutup aurat baru perhiasan, bukan sebaliknya.  Artinya, Berpakaian menjadi perhiasan setelah memenuhi syarat menutup aurat.
Namun sayangnya, fakta di lapangan menunjukkan bukti lain. Masih banyak ditemukan saudara-saudari kita berpakaian, namun menurut Allah dan Rasul-Nya masih  belum berpakaian (berpakaian tapi telanjang). Banyak diantara kita dalam memilih pakaian tidak memperhatikan syarat-syarat pakaian yang sebenarnya. Kebanyakan mereka memilih pakaian berdasarkan keindahan saat dipandang, meskipun sangat bertentangan dengan aturan menutup aurat (syariat Islam). Untuk itu, adalah tugas kita bersama untuk menyadarkan mereka akan pentingnya pakaian yang menutup aurat, baik saat berada di depan public maupun ketika menghadap Allah Swt.
Fakta lain juga membuktikan bahwa banyak sekali kaum muslim yang mengenakan pakaian untuk acara di luar shalat lebih baik bahkan jauh lebih baik dari pada pakaian saat melaksanakan shalat. Mari kita lihat, begitu banyaknya saudara kita berpakaian kaos saat shalat, yang jika ruku/sujud kelihatan sebagian badannya (pinggang belakang) karena bajunya tertarik naik. Dan saat mereka ingin bertemu dengan para pejabat atau acara-acara lain kemungkinan pakain kaos untuk shalat ini tidak akan digunakan, namun mereka memakai pakaian yang terbaik.  Bukankah Allah Swt. memerintahkan menggunakan pakaian yang terbaik saat ingin mendirikan shalat, namun mengapa kita melakukan yang sebaliknya? 
Maka, patut dipertanyakan kembali tujuan berpakaian kita. Untuk siapa sebenarnya kita berpakaian? Apakah untuk Allah atau untuk hamba Allah (pejabat)? Tentu saja, jawaban  dari pertanyaan-pertanyaan ini ada di dalam diri kita sendiri.
Terkait dengan hal ini, di dalam buku ini saya menyajikan empat belas kesalahan berpakaian dalam shalat yang sering terjadi. Adapun keempat belas kesalahan berpakaian tersebut, yakni:
Kesalahan 1        : Shalat Memakai Pakaian (Celana) Ketat
Kesalahan 2        : Shalat Dengan Pakaian Tipis atau Transparan dan Asal-Asalan
Kesalahan 3        : Shalat Dengan Menyingsingkan (Melipat) Lengan Baju
Kesalahan 4        : Shalat Dengan Kedua Bahu Terbuka
Kesalahan 5        : Shalat Memakai Pakaian Bergambar
Kesalahan 6        : Shalat Dengan Aurat Terbuka
Kesalahan 7        : Isbal Bagi Laki-Laki
Kesalahan 8        : Shalat Tanpa Mengenakan Penutup Kepala
Kesalahan 9        : Menyambung Rambut dan Pakaian Serta Menjalin Kepala
Kesalahan 10      : Shalat Memakai Pakaian (Dari Hasil) Yang Haram
Kesalahan 11      : Shalat Dengan Mengurai Pakaian
Kesalahan 12      : Shalat Mengenakan Pakaian dari Sutra Bagi Laki-Laki
Kesalahan 13      : Shalat Dengan Memakai Pakaian yang dicelup Mu’ashfar
Kesalahan 14      : Shalat Dengan Pakaian Yang Najis
Itulah empat belas kesalahan berpakaian dalam shalat yang hingga saat ini dapat kita jumpai di dalam masyarakat. Atau bahkan, salah satu di antara kita mungkin ada yang masih melakukannya. Untuk mereka yang masih menyepelekan masalah berpakaian dalam shalat, terlebih lagi yang cara berpakaiannya tergolong salah satu dari empat belas kesalahan tersebut, maka sebaiknya mulai mengubah tata busananya dalam shalat, sehingga shalat kita diterima oleh Allah Swt.
Harus Anda ketahui, ternyata kesalahan berpakaian dapat menyebabkan atau menghalangi ditermanya shalat kita. Ya, jika pakaian yang kita kenakan dalam shalat tidak sesuai dengan kaidah syaraiat atau tidak menutup aurat sebagaimana diperntahkan syariat, maka hal tersebut dapat membatalkan shalat kita atau shalat kita dianggap tidak sah. Benarkah demikian? Jawabannya –hukum mengenai kesalahan-kesalahan berpakaian dalam shalat-- dapat Anda temukan pada setiap kesalahan yang disajikan dalam buku ini. Oleh karena itu, buku ini penting untuk Anda baca hingga tuntas untuk mengetahui tata busana yang salah dalam shalat, sehingga Anda pun bisa mengantisipasi atau menghindarinya.
Akhirnya, semoga kehadiran buku ini dapat bermanfaat bagi Anda dan dapat memberikan wawasan serta pengetahun baru seputar pakaian dalam shalat. Amin!




[1] Yang dimaksud dengan anak adam dalam ayat tersebut sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur’an terjemahan adalah seluruh umat manusia. Sebab, seluruh manusia adalah anak cucu Nabi Adam as.